ads

Link Banner

Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5

Kisah Cinta Nabi Ibrahim as dan Siti Hajar rha

 Ibrahim membawa jalan istri dan anaknya, Hajar dan Ismail, dari Palestina menuju Mekkah. Keduanya tidak diberi tahu bahwa mereka akan ditinggalkan di sana. Ibrahim hanya diperintahkan oleh Allah membawa istri dan anaknya ke lembah Mekkah.
Apapun yang terjadi di sana Allah tidak memberitahu. Ibrahim hanya pasrah menjalankan perintah, itu saja. Tanpa perbekalan makanan, pakaian dan atribut-atribut traveling lainnya seperti layaknya orang yang hendak pergi jauh.
Sesampainya di lembah Mekkah, berkatalah Ibrahim kepada istrinya, "Dinda sayang..., di sinilah kanda akan melepas kalian berdua untuk menjalani hidup... "
Mendengar ucapan suaminya, Hajar kaget bukan kepalang. Sambil tetap hormat dan patuh pada suaminya, bertanyalah Hajar, ”wahai kanda, ampunilah salah dinda..., dosa apakah yang dinda perbuat hingga kanda tega meninggalkan kami di tempat yang gersang ini?”.
Mendengar pertanyaan itu Ibrahim diam saja. Hingga diulang tiga kali pertanyaan tersebut, Ibrahim tetap diam saja, "Allahu amaruka bihaadzaa (apakah Allah yang perintahkan ini kepada kanda)?" Akhirnya Hajar paham bahwasanya Ibrahim merasa berat meninggalkan keduanya.
Ibrahim adalah seorang Nabi, tidak mungkin beliau tidak mengerti tanggung jawab seorang laki-laki terhadap istri dan anak. Ibrahim sangat mengerti bahwa istri dan anaknya mesti dilindungi, dinafkahi lahir dan bathin, dst. Ibrahim pun pasti lebih mengerti dari seluruh ulama yang ada saat ini dan jauh lebih mengerti dari kita semua. Tapi ini perintah Allah, Hajarpun mengerti bahwa Ibrahim begitu berat menjalankan perintah ini, yakni berpisah dengan istri dan anak satu-satunya yang justru telah lama ditunggu kelahirannya (selama 80 tahun).
Hajarpun bertanya sekali lagi, "Allahu amaruka bihaadzaa (apakah Allah yang perintahkan ini kepada kanda)?" Maka Ibrahim memandang ke langit dan mengucapkan “Allah” dengan perlahan.
Hajar langsung menghibur suaminya, “kalau memang begitu wahai Kanda, Allah tidak akan sia-siakan kami, kanda berangkatlah, jangan pikirkan kami, Allah akan menjaga kami dan Allah tidak akan menyia-nyiakan kami, berangkatlah wahai Kanda”. Hibur Hajar kepada suaminya, Ibrahim.
Setelah itu, baru Ibrahim mendapatkan kemantapan meninggalkan istri dan anaknya, di satu daerah bernama Hudai. Berangkatlah Ibrahim sambil sesekali melihat dan menengok ke belakang.
Hingga beberapa jarak, Hajar dan Ismail tak nampak lagi karena terhalang gunung batu dan perbukitan. Ibrahim berhenti sejenak, memanjatkan doa sambil berlinang airmata. Doa itu dilestarikan Allah dalam Al-Qur’anul karim,
رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ
"Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah tempatkan sebagian dari keturunanku di lembah yang tak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau yang suci. Ya Rabb kami, yang demikian itu agar mereka mendirikan sholat, maka jadikanlah hati sebagian manusia condong kepada mereka, dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, semoga mereka bersyukur". (Q.S Ibrahim : 37).
Kemudian beliau kembali berangkat, meneruskan perjalanan ke Palestina.
Sebagai seorang suami dan seorang ayah, Ibrahim juga ingin tahu keadaan anak dan istrinya. Maka setelah 4 tahun barulah Ibrahim diijinkan oleh Allah swt untuk menengok anak dan istrinya. Namun demikian, Allah perintahkan pada beliau agar jangan terlihat oleh anak dan istrinya. Ibrahim hanya diperbolehkan menengok dari jarak jauh yang tak terlihat.
Sesampainya di Mekkah, setelah 4 tahun ditinggalkan, Ibrahim menyaksikan ternyata Mekkah sudah berubah menjadi kampung kecil. Sudah ada rumah, penduduk, telaga, juga ada kambing-kambing, dan ada pula sumur. Tentunya Ibrahim tidak tahu apa yang terjadi pada Hajar dan Ismail. Beliau sibuk berdakwah selama 4 tahun hingga tak dapat berita tentang keadaan istri dan anaknya. Ibrahim hanya pasrah kepada Allah swt.
Ternyata setelah 4 tahun berlalu, taraf hidup istrinya mengalami peningkatan. Sudah punya rumah, kambing, dan telaga. Orang-orang di sekitarnya sangat menghormatinya. Hidupnya penuh berkah dan berkecukupan.
Setelah mengetahui kondisi istri dan anaknya di Mekkah, Ibrahim kembali ke Palestina untuk berdakwah tanpa sepengetahuan istri dan anaknya sebagaimana diperintahkan Allah swt.
Setelah 4 tahun berlalu, Ibrahim diperbolehkan kembali oleh Allah swt untuk menengok istri dan anaknya. Namun kali ini, hanya boleh mendekat namun tidak boleh turun dari kendaraannya.
Sesampainya di Mekkah, Hajarpun menyambut gembira kedatangan suaminya. Rasa haru dan bahagia telah bercampur karena rindu yang begitu dalam dirasakan oleh Hajar. Bagaimana tidak, berpisah selama 8 tahun tiba-tiba datang tanpa pemberitahuan sebelumnya. Sepasang insan itu memadu kasih, meluapkan kerinduan dan melepas kekangenan setelah berpisah selama 8 tahun.
Hajar mempersilakan suaminya untuk turun dari kendaraan dan masuk ke rumahnya. Berkatalah Hajar, "Kanda..., sekarang kita sudah punya rumah, punya telaga zam-zam. Silahkan Kanda..., di rumah ada daging dan roti, dinda persilahkan kanda masuk ke rumah".
Namun Ibrahim tak bergeming, diam saja di atas kendaraannya. Hajar mempersilahkannya berkali-kali tapi tetap Ibrahim hanya diam tak bergeming di atas onta.
Hajarpun tertunduk, sambil menelan kembali rasa harunya seraya berkata, “Mohon maafkan dinda jika bersalah, apakah ini perintah Allah wahai Kanda...?”
Ibrahim menjawab, “Ya, ini perintah Allah, kanda diperintahkan menengok dinda tapi tidak boleh turun dari kendaraan ini”.
Sambil meneteskan air mata haru bercampur rindu yang tertelan, Hajar tetap menunduk dan memadukan kedua tangan di wajahnya seperti orang yang sedang memohon.
Seraya berkata kepada suaminya, "wahai kanda..., maafkanlah dinda jika bersalah. Mohon izinkan dinda membasuh wajah kanda, membasuh kaki dan tangan kanda. Mohon izinkan sekali ini saja, dinda ingin membersihkan tubuh kanda dengan air zam-zam ini?"
Ibrahim berkata, "Dinda sayang..., dinda sama sekali tidak bersalah, Allah mengizinkan dinda membersihkan tubuh kanda yang kotor ini dengan air zam-zam. Kanda persilahkan...".
Hajarpun bergegas, langsung diambilnya air zam-zam dan segera ia bersihkan tubuh suaminya yang masih duduk di atas onta tersebut.
Ibrahim tak tahan melihat ketulusan istrinya, tanpa sadar air matanya berlinang, tak mampu ia bendung. Lalu Ibrahim berpura-pura meminta istrinya mengambilkan air zam-zam untuk membasuh wajahnya sendiri.
Kemudian Ibrahim membasuh wajahnya sendiri untuk menutupi tumpahan air matanya agar istrinya tidak tahu. Airmata Ibrahim tumpah bersama basuhan air zam-zam yang diusapkan ke wajahnya.
Ibrahim menyembunyikan tangis di depan istrinya. Hal itu beliau lakukan sebagai bentuk dukungan kepada istrinya bahwa Allah telah ridha atas prilakunya dan melimpahkan barakah atas kepatuhannya kepada suami dan keyakinannya pada perintah Tuhan.
Ibrahim tetap pada perintah Allah swt, yakni tidak bergeming dari posisinya di atas onta. Allah memerintahkannya untuk tidak turun dari kendaraannya. Hingga sedetil itulah perintah Allah swt dengan penuh khidmat beliau laksanakan.
Setelah kaki dan tangannya dibersihkan, Ibrahimpun mencukupi istrinya untuk tidak meneruskan membersihkan tubuhnya. Sambil memegang tangan istrinya beliau berkata, "Cukuplah dinda..., Allah telah ridha atas ketulusan prilaku dinda kepada kanda... Sekarang kanda harus kembali pergi untuk memenuhi perintah Allah".
Dengan hati yang mantap, Ibrahim kembali berangkat meninggalkan istri dan anaknya untuk menjalankan perintah Allah. Beliau akan kembali lagi setelah 4 tahun. Setelah itu, beliau diperbolehkan berkumpul bersama keluarganya di Mekkah. [byHaqq]


 Ibrahim membawa jalan istri dan anaknya, Hajar dan Ismail, dari Palestina menuju Mekkah. Ke...

Badan Intelijen Negara (BIN); Sebuah Catatan Pinggir

"Berani tidak dikenal, mati tidak dicari, berhasil tidak dipuji, dan gagal dicaci maki"
Hanya sebuah catatan pinggir yang mungkin dapat mengingatkan jati diri seorang insan intelijen.
Terhadap prinsip sebagaimana tertera pada judut thread ini, saya berkali-kali memberikan catatan yang agak berbeda sedikit, namun juga ada hal-hal yang tidak dapat ditawar sebagai prinsip yang harus dipahami seorang intel.
Silahkan dibaca....
"Berani tidak dikenal" adalah salah satu prinsip dasar yang tidak dapat dibantah lagi dalam profesi seorang intel. Apabila kita bertemu/berkenalan dengan seseorang dan yang bersangkutan mengenalkan diri sebagai seorang intel, maka ia telah melanggar prinsip kerjanya sendiri. Pengecualian dapat saja terjadi ketika kita berada di dalam pertemuan komunitas intelijen, ataupun dalam rapat di lembaga pemerintah dimana kita mewakili institusi intelijen, atau bahkan dalam pertemuan internasional dimana pesertanya adalah kalangan intel. 
Penyakit ingin dikenal biasanya terjadi justru pada tahap awal menjadi seorang intel atau pada saat telah menduduki jabatan yang cukup tinggi. Ibaratnya seperti juga seorang yang baru belajar bela diri silat sabuk putih dengan sedikit kembangan, jurus, belebat dan tapak, kadang kebanggaan menjadi bagian dari perguruan silat melebihi kemampuannya dalam bela diri. Semantara, harga diri seorang pejabat intel, kadang meledak pada saat ada pihak-pihak meremehkannya, sehingga munculah perilaku ingin dikenal.
"Mati tidak dicari" sebenarnya merupakan prinsip government denial atau penyangkalan pemerintah terhadap keberadaan seorang intel/agen yang hilang atau mati dalam sebuah operasi di negara lawan. Hal ini sangat penting guna meredam terjadinya konflik yang lebih besar antar negara, sehingga seorang agen yang ditugaskan di luar negeri secara mental selalu siap untuk dianggap tidak ada, dimana kematiannya-pun tidak akan dicari. Prinsip ini hampir tidak pernah diterapkan dalam operasi di dalam negeri, kecuali pada saat terjadi perang saudara atau pemberontakan yang besar.
"Berhasil tidak dipuji" adalah sebuah prinsip yang dibangun untuk memupuk/membangun jiwa rendah hati seorang intel. Mengapa seorang intel perlu memeiliki kerendahan hati? Hal ini semata-mata demi kelangsungan hidupnya untuk membiasakan diri tidak mencari pujian atau berkompetisi semata-mata demi nama atau jabatan. Secara psikologis, manusia akan selalu senang dipuji atas keberhasilan/sukses dalam kehidupannya. Intel juga manusia yang haus akan pujian, namun pujian dalam dunia intelijen perlu direduksi guna menghindari lahirnya kesombongan/takabur yang sering menjerumuskan seorang intel dalam keadaan yang menyedihkan karena kesombongannya.
"Gagal dicaci maki" adalah sebuah prinsip dimana tidak ada kata gagal dalam kamus pekerjaan seorang intel, sehingga hanya caci-maki yang akan diterima seorang intel yang gagal. Mengapa intel tidak boleh gagal? bukankah manusia wajar saja apabila gagal? Dalam kondisi ekstrim, hal ini berangkat dari prinsip keadaan perang dimana kegagalan seorang intel dapat mengakibatkan kematian atau kekalahan dalam perang sehingga tidak dapat diampuni. Apakah kita dapat hidup tenang apabila kegagalan kita menyebabkan kematian banyak sahabat dan rekan kerja kita. Kemudian prinsip tersebut diabadikan dalam dunia intelijen untuk mendorong seorang intel memaksimalkan skill, kemampuan, dan kreatiftasnya dalam menyukseskan pekerjaan operasionalnya.
Saya berikan contoh sederhana yang secara filosofis dapat menjelaskan kondisi ini sbb:
Tugas yang diberikan oleh pimpinan secara mendadak adalah menghadiri pertemuan rahasia di Hotel Indonesia jam 3 dinihari tanggal XX bulan YY tahun 2014. Posisi anda pada jam 2 dinihari di Depok tanpa memiliki kendaraan bermotor. Beberapa kawasan menuju Hotel Indonesia banjir. Dapat dipastikan anda akan terlambat atau bahkan tidak dapat menghadiri pertemuan dimaksud. Apakah anda bisa melapor pada pimpinan dan menyampaikan maaf Pak saya gagal mencapai Hotel Indonesia jam 3 dinihari, sehingga tidak tahu isi pertemuan rahasia dimaksud. Silahkan dipikirkan masing-masing...jawabnya
Intelijen
Intelijen (bahasa Inggris: intelligence) adalah informasi yang dihargai atas ketepatan waktu dan relevansinya, bukan detail dan keakuratannya, berbeda dengan "data", yang berupa informasi yang akurat, atau "fakta" yang merupakan informasi yang telah diverifikasi. Intelijen kadang disebut "data aktif" atau "intelijen aktif", informasi ini biasanya mengenai rencana, keputusan, dan kegiatan suatu pihak, yang penting untuk ditindak-lanjuti atau dianggap berharga dari sudut pandang organisasi pengumpul intelijen. Pada dinas intelijen dan dinas terkait lainnya, intelijen merupakan data aktif, ditambah dengan proses dan hasil dari pengumpulan dan analisis data tersebut, yang terbentuk oleh jaringan yang kohesif.
Kata intelijen juga sering digunakan untuk menyebut pelaku pengumpul informasi ini, baik sebuah dinas intelijen maupun seorang agen.
Proses
Informasi yang dikumpulkan bisa sulit untuk didapatkan, atau bahkan informasi rahasia, yang didapatkan dengan spionase ("sumber tertutup"), atau dapat juga berupa informasi yang tersedia bebas, di surat kabar atau internet ("sumber terbuka").
Secara tradisional, pengumpulan intelijen berupa pengumpulan informasi dari segala sumber, lalu penyimpanan dan pengurutan informasi tersebut, dan diperkirakan sebagian kecil dari yang terkumpul akan berguna kemudian. Hasil dari pengumpulan intelijen ("produk") dan sumber serta metode pengumpulannya ("tradecraft") seringkali dirahasiakan. 
Biasanya, personel intelijen dibekali kemampuan lebih atau dapat dikatakan, orang yang menjadi intelijen ialah orang-orang pilihan terbaik. Kebanyakan mereka berkamuflase lebih hebat sehingga sangat sulit dan bahkan tak terlihat ketika berbaur dengan masyarakat sipil atau berbaur dengan pihak musuh, karena mereka memegang prinsip 1000 cover. Artinya, personel intelijen tersebut memiliki 1000 id yang mana id-id tersebut menutupi identitas asli personel intelijen tersebut. Beban berat dan tugas berat selalu dipundak mereka. Ibaratnya, misi berhasil tak dipuji, misi tak berhasil dicacimaki, matipun tak ada yang mengakui.
Intelijen pemerintah biasanya diserahkan pada dinas intelijen, yang umumnya diberikan dana besar yang dirahasiakan. Dinas-dinas ini mengumpulkan informasi dengan berbagai cara, dari penggunaan agen rahasia, menyadap saluran komunikasi, sampai penggunaan satelit pengintai.
Intelijen militer adalah kegiatan dalam perang yang melakukan pengumpulan, analisis, dan tindak lanjut atas informasi tentang musuh di lapangan. Kegiatan ini memakai mata-mata, pengintai, peralatan pengamatan yang canggih, serta agen rahasia.
Intelijen bisnis merupakan informasi rahasia yang didapatkan suatu perusahaan mengenai saingannya dan pasar.
Informasi yang dicari
Pada perkembangan selanjutnya, informasi yang dicari bukan hanya bersifat kemiliteran namun juga mengenai masalah masalah sosial, gejolak sosial, informasi ekonomi, pertanian, tingkat keberhasilan panen serta kemajuan teknologi. Tujuannya selain bersifat untuk kepentingan analisis militer, juga berguna untuk kepentingan lainnya seperti kepentingan ekonomi, kerjasama ekonomi dan lain-lain terutama yang bersifat hubungan antar negara (diplomatik). 
Selain negara, kadang-kadang perusahaan-perusahaan maupun kalangan bisnis juga menggunakan cara-cara ini untuk mengumpulkan informasi yang sifatnya terbatas hanya untuk kepentingan bisnis seperti prospek mendirikan usaha maupun investasi, kemampuan daya beli dan ekonomi sampai mengetahui kekuatan bisnis saingannya.
Seorang personel intelijen telah didoktrin untuk menyerap informasi sebanyak-banyaknya yang berkaitan dengan apa yang telah menjadi misinya. Kekuatan suatu negara tidak hanya terletak pada kekuatan armada perangnya, namun intelijen adalah suatu titik inti dari keberhasilan suatu kekuatan pokok suatu negara. Kadang Intelijen dipandang sebelah mata oleh suatu kaum paradigmatis tertentu, justru dengan intelijen inilah suatu sistem akan tetap utuh dan terjaga dari segi keamanan internal.
Operasi intelijen
Pada dasarnya, intelijen adalah bersifat mengumpulkan informasi. Pada perkembangannya terutama yang berurusan dengan masalah negara, juga ditambah dengan usaha sejauh mana menyelesaikan setiap ancaman yang dilakukan secara efektif, rahasia, dan langsung menuju sasarannya yang dikenal dengan operasi intelijen yang sering dikenal juga dengan operasi klandestin. Sebagai contoh di Amerika Serikat terdapat undang-undang intelijen yang isinya "..serta usaha usaha yang dilaksanakan untuk menghadapi ancaman terhadap kepentingan nasional". Maka mucullah operasi-operasi seperti usaha penggulingan terhadap Presiden Soekarno dengan memberikan bantuan senjata kepada kaum pemberontak pada dekade 1950-an, Invasi Teluk Babi di Kuba tahun 1960-an, usaha pembunuhan Presiden Saddam Hussein dan lain-lain.
Kriminalitas
Prinsip prinsip intelijen juga digunakan untuk mengatasi kriminalitas dan kejahatan yang terjadi di masyarakat umumnya dugunakan oleh kepolisian dengan menggunakan unit-unit reserse atau kejaksaan seperti di Amerika Serikat (FBI), detektif bahkan wartawan untuk mencari sumber berita. Masing masing memiliki kode etik tersendiri.
Sifat-sifat operasi Intelijen
Umumnya operasi intelijen dilakukan untuk dua kepentingan:
1. Operasi Taktis
Yaitu operasi yang dilakukan untuk mendukung operasi-operasi taktis yang dilakukan dalam jangka waktu dan kegiatan tertentu, umumnya dilakukan oleh angkatan bersenjata dalam operasi operasi militernya.
2. Operasi Strategis
Yakni operasi yang dilakukan dengan mengumpulkan data-data informasi dan kegiatan lain untuk kepentingan strategis umumnya dilakukan dengan jangka panjang.



"Berani tidak dikenal, mati tidak dicari, berhasil tidak dipuji, dan gagal dicaci maki&qu...

Media Sosial dan Keberagamaan

Informasi dan komunikasi adalah sebuah disiplin ilmu yang terbilang cukup tua. Kemunculannya dapat dikatakan berbanding lurus dengan sejarah kemunculan umat manusia di muka bumi ini. Perkembangannya yang pesat menjadi semacam antisipasi bagi kehidupan manusia agar selalu siap menghadapi perubahan zaman.
Di masa kini, teknologi informasi dan komunikasi telah menjadi kampiun bagi seluruh aktifitas kehidupan manusia. Menjadi semacam tongkat pemandu, penujuk arah, jendela dunia, sumber data, “guru pembimbing”, dan bahkan di sebagian komunitas tertentu ia menjadi seperti “nabi” yang bisa menjadi mesin penggerak dan perubahan bagi sebagian besar aktifitas manusia.
Adalah internet, sebuah fakta tak terbantahkan dari wujud revolusi tekonologi informasi dan komunikasi. Sebuah keniscayaan yang menghubungkan kesadaran manusia akan pentingnya informasi dan komunikasi dengan cepat. Pantas saja, awal era milenium ketiga ini beberapa orang menyebutnya dengan era “revolusi digital” atau “revolusi multimedia”. Walhasil, media informasi dan komunikasi yang digerakkan oleh teknologi internet tidak lagi disebut sebagai “agen” perubahan tapi sudah menjadi “panglima”.  Fakta tersebut terus menerus mengalami penguatan melalui bukti-bukti yang juga terus bermunculan.
Dengan kecerdasannya, manusia telah menemukan sebuah “cara hidup” yang praktis, mudah, instan, cepat dan tanggap. Hampir semua sektor kehidupan manusia telah mengalami digitalisasi. Dikendalikan, ditakar, dan dimobilisasi melalui angka-angka secara eksakta. Era digital seolah telah menjadi “agama” yang dibawa oleh “nabinya” bernama teknologi.
Redupnya Hati Nurani
Proses digitalisasi merupakan wujud perkembangan akal manusia. Semakin pesat teknologinya, semakin cepat pula perkembangan akal manusia. Semakin asyik manusia menari-nari dengan akalnya, semakin dalam pula ketergantungannya pada akal. Semakin dalam ketergantungannya pada akal, manusia semakin tidak percaya kepada segala sesuatu di luar panca inderanya. Artinya, sesuatu yang tidak bisa diindera tidak patut dipercaya.
Manusia di era digital telah muncul sebagai “manusia rasional”. Segala sesuatu mesti masuk akal, mesti diukur dengan akal, dan harus bisa dijangkau melalui jendelanya, yakni panca indera. Jika tidak masuk akal, maka sesuatu itu tidak bisa dipercaya. Sesuatu yang tidak bisa dijangkau oleh panca indera, tidak boleh menjadi kepercayaan dan keimanan, bahkan dianggap tidak ada.
Era digital telah melahirkan manusia yang digerakkan secara eksakta, tanpa perasaan dan hati nurani. Seperti mesin, pikiran dan kehidupan manusia dikendalikan oleh sistem angka. Walhasil, manusia di era ini telah kehilangan hati nurani yang tidak bisa dijangkau oleh panca indera.
Semua sektor kehidupan manusia tanpa penyertaan hati nurani. Bahkan agama mengalami nasib yang sama, yakni telah dipahami tanpa penyertaan hati nurani. Agama telah kehilangan visi langitnya, tidak lagi menjadi samawi. Basis rasio telah menjadi kacamata dalam beragama. Agama samawi (langit) telah berubah menjadi agama ardhi (bumi). Ajaran akhlaq dalam agama hanya semata-mata tuntunan moral belaka, tanpa visi langit.
Mata langit manusia di era digital telah mengalami kebutaan. Sedangkan mata buminya semakin terang, semakin jelas dan semakin menjadi sandaran. Padahal mata langit dan mata bumi adalah keseimbangan yang diamanahkan dalam ajaran agama. Itulah yang disebut nurani, bahasa Arab menyebutnya nuraani (dua cahaya; cahaya akal dan cahaya hati). Nurani adalah dua cahaya yang mesti dijadikan visi bagi orang beragama. Satu cahaya adalah visi langit dan satu cahaya lagi adalah visi bumi.
Agama Media Sosial
Media sosial sebagai salah satu manifestasi revolusi digital memiliki peran penting dalam pembentukan pola pikir di abad ini. Pengaruh positif yang muncul dari inovasi itu tidak bisa dipandang sebelah mata. Pengaruh negatifnya pun tak bisa dianggap enteng. Kebangkitan dan kehancuran manusia punya peluang yang sama.
Dakwah dan pembelajaran umat secara konvensional jauh tertinggal. Efektifitas tablighnya tertinggal berpuluh-puluh kali lipat dari metode dengan menggunakan media sosial. Setiap orang bisa dengan sangat mudah, kapan saja dan dimana saja, saling memberi dan mendapatkan “asupan” informasi.
Secepat kilat, arus informasi saling berkelindan menghampiri para pencari. Seolah arus deras informasi itu tanpa ampun menggilas dan menjejali siapa saja yang membutuhkannya. Tak peduli berkomposisi muatan racun atau madu, semua disiram tanpa pilih kasih. Tak peduli berada dimana dan disaat apa. Tak peduli siapa yang bangkit dan maju atau siapapun yang hancur dan binasa karenanya. Sisi positif dan negatif menjadi setara, filternya nafsi-nafsi.
Efektifitas pembelajaran umat manusia di era digital sama besarnya dengan efektifitas pembinasaannya. Ucapan media sosial sudah seperti “Sabda Nabi” yang bisa mempengaruhi cara berfikir manusia. Dari anak-anak sampai para manula. Dari yang punya bekal pendidikan sampai yang tidak merasakan sekolah sedetikpun. Dari mereka yang hidup dan tinggal di perkotaan sampai mereka yang berada di pelosok-pelosok pedesaan. Semua punya kesempatan dan resiko yang sama.
Melalui media, orang bodoh bisa nampak seperti orang cerdas. Orang awam bisa nampak seperti ulama. Setiap orang bisa menumpahkan keadaan dirinya, uneg-unegnya, dan pemikirannya lewat tulisan, film, rekaman dan audio visual lainnya. Pun saat bersamaan setiap orang dapat dengan mudah mengkonsumsi informasi yang disebarkan oleh orang lain.
Era digital telah melahirkan manusia-manusia yang hanya mengandalkan panca inderanya. Situs-situs web, jejaring sosial semisal Facebook, Twitter, BBM, Whatsapp, dll masuk tanpa reserve di setiap waktu, tempat dan keadaan setiap orang. Tak bisa dibendung, disaring dan dipilah-pilah kecuali oleh diri sendiri. Kemudahan mendapatkannya sama persis dengan menggerakkan kehendaknya melalui pikiran. Setiap orang mutlak dituntut membuat filter dan bendungan sendiri.
Hanya melalui tulisan, pikiran manusia begitu mudah dikendalikan. Berbagai kendali untuk sebuah kepentingan pun menjadi lebih mudah dimainkan. Proses sosialisasi dan publikasi menjadi sangat efektif. Agitasi dan propaganda melalui media semakin diperhitungkan oleh kelompok-kelompok tertentu. Pesan-pesan ajakan melalui tulisan dan photo cukup membuat seseorang bersimpati atau berantipati. Emosi dapat dengan mudah dipicu dan cukup efektif menjadikan seseorang menjadi ekstrimis, radikalis, apatis, dan pesimis. Ujaran kebencian dan kedengkian saling berkelindan. Riya dan sum’ah semakin tak terdeteksi. Bahasa nasehat dapat diramu menjadi sebuah kebencian. Menasehati sekaligus membenci. Bertaubat sekaligus berbuat riya dan sum’ah.
Cara beragama yang diungkap melalui media sosial justru memiliki “madzhab” tersendiri. Agitasi dan propaganda politik di media sosial menjadi metode yang sangat efisien. Potensi konflik sangat besar menghantui para pengguna media. Terus menerus dipupuk, dihangatkan dan ditajamkan melalui ramuan-ramuan fitnah dan kebencian.
Seseorang dapat dengan mudah digiring, dikendalikan dan diarahkan. Mengapa begitu? Karena bahasa agama yang dikonsumsi di media sosial telah tercemar oleh kepentingan-kepentingan hegemoni.
Era revolusi digital sungguh menuntut kesiapsiagaan para penggunanya. Kesiapsiagaan itu harus dimulai dari perubahan paradigma yang dimunculkan dari hati nurani. Berapa banyak sudah para anak bangsa ditipu, dikriminalisasi, difitnah, distigmatisasi, dipublikasi dan diprovokasi melalui propaganda media karena kebohongan-kebohongan yang berselimut bahasa dan visualisasi agama. Agama telah menjadi makanan empuk bagi para pemangku kepentingan kapitalisme dan kekuasaan. Wallaahu muwaffiq ilaa sabiilit taufiiq...
alHajj Ahmad Baihaqi

Informasi dan komunikasi adalah sebuah disiplin ilmu yang terbilang cukup tua. Kemunculannya dap...

Memandang yang Satu kepada yang Banyak

Judul ini saya ambil dari ungkapan hakikat dari Maulana Saidi Syekh Muhammad Hasyim al-Khalidi untuk menjelaskan tentang hakikat Tuhan dan Tajalli-Nya di alam ini. Laksana matahari yang hanya SATU, tapi sinarnya tanpa batas bisa dinikmati di seluruh dunia, semua orang bisa memandang matahari, merasakan hangat sinarnya dan mengambil manfaat dari energi yang di kandungnya.
Semua meyakini bentuk matahari adalah bulat namun cahaya matahari pada dasarnya tidak memiliki bentuk. Ketika cahaya tersebut masuk ke dalam wadah empat persegi maka wujudnya empat bersegi dan saat cahaya matahari melewati atap rumah yang bocor berbentuk segitiga maka cahaya matahari akan terlihat dalam bentuk segitiga.
Benda padat tidak bisa disatukan dengan benda padat karena akan tersisa ruang diantaranya, kalau anda mengumpulkan batu dalam satu tempat, walaupun batu tersebut bersatu tapi tetap ada jarak memisahkan satu dengan lainnya. Berbeda dengan benda cair, disaat anda isi air dalam gelas, maka secara otomatis bentuk air akan mengambil tempat persis seperti gelas. Kita semua tahu bahwa air juga ada spasi antara satu molekul dengan molekul lainnya akan tetapi pandangan mata tidak melihat hal itu, yang terlihat air adalah satu bentuk, satu WAJAH.
Lebih halus lagi adalah gas, ketika disatukan dalam satu wadah maka secara otomatis pula gas tersebut akan menyerupai wadah yang ditempati. Cahaya kita masukkan kedalam jenis gas, benda sangat halus, disaat masuk kedalam wadah apapun langsung menyerupai wadah tersebut. Sampai saat ini kita tidak bisa melihat wujud listrik, sampai arus nya masuk ke dalam bola lampu dan meneranginya, kita semua sepakat begitulah bentuk listrik.
Cahaya tampak dan cahaya gaib memiliki persamaan, sama-sama sangat halus dan bisa menempati wadah apa saja. Cahaya Allah yang bertajalli dalam diri Muhammad bin Abdullah membuat Beliau secara otomatis menjadi seorang Rasul Allah, menjadi utusan yang membawa cahaya tersebut ke seluruh alam ini. Cahaya Allah dalam diri Muhammad itu yang membendakan Beliau dengan manusia biasa. Bukan saja Beliau bercahaya akan tetapi juga bisa menerangi siapa saja yang bersentuhan dengan Beliau. “Cahaya Allah diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki Allah” (Surat An-Nur 35). Cahaya Allah dalam diri Muhamamad ini secara halus orang menyebut sebagai Nur Muhamamad yang merupakan tajalli dari Nur Allah.
Dengan Nur Muhammad inilah fungsi Rasul bukan sekedar mengulang apa yang di firmankan Allah, akan tetapi Beliau berfungsi sebagai The Big Conductor yang mengantarkan energi tak terhingga yang berasal dari sisi Allah. Muhammad dalam hal ini berfungsi sebagai pembawa Wasilah yang tidak lain adalah cahaya Allah Ta’ala.
Cahaya di atas cahaya” demikian Allah mengumpamakan dalam al-Qur’an yang membuat ruhani Rasulullah SAW berfungsi untuk mensucikan sekalian arwah manusia agar bisa berhampiran dengan Allah SWT Yang Maha Suci lagi Maha Bersih. Lalu bagaimana cahaya dalam diri Nabi tersebut bisa disalurkan kepada para sahabat? Apa cukup dengan mendekati zahir Nabi? Atau cukup dengan memandang wajah Beliau?
Cahaya tersebut hanya bisa menghampiri siapa saja setelah memenuhi rukun dan syaratnya. Kalau hanya sekedar memandang maka Abu Lahab dan Abu Jahal juga lama memandang wajah Nabi, kalau hanya bersentuhan fisik, berapa banyak orang kafir quraisy bersentuhan dengan Beliau tapi tetap menjadi kafir.
Memandang dalam hal ini harus dengan keimanan, kunci pembukanya adalah pengakuan akan Kerasulan Beliau lewat Kalimah Syahadat, kemudian mengambil amalan dari Beliau dan secara istiqamah mempraktekkannya barulah cahaya itu masuk dalam qalbu ummat.
Sepeninggal Nabi, cahaya itu terus menerus harus ada dibawa secara estafet oleh para Ulama Pewaris Nabi, rumus dan cara mempraktekkan wajib pula sama sehingga hasilnya akan sama.
ثنا أبو مروان العثماني ثنا نافع بن صيفي عن عبد الرحمن بن عقبة بن عامر عن أبيه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم . لا يدخل النار مسلم رآني ولا رأى من رآني ولا رأى من رأى من رآني . رواه الترمذي والضياء المقدسي بسند صحيح
Tidak akan masuk neraka seorang muslim yang melihat aku dan tidak juga (akan masuk neraka) yang melihat orang yang telah melihat aku, dan tidak juga (akan masuk neraka) orang yang melihat orang yang telah melihat aku, sekalipun dengan 70 wasithah (lapisan/antara). Sesungguhnya mereka itu adalah para khalifahku dalam menyampaikan (islam/sunahku) mengasuh dan mendidik (orang ramai), sekiranya mereka itu tetap istiqamah didalam syari’atku” (H.R. Al – Khatib bin Abd.Rahman bin Uqbah).
Melihat disini bukan hanya sekedar melihat, kita wajib mencari orang yang pernah sempurna melihat Nabi dan mencari pula orang yang telah sempurna melihat orang yang melihat Nabi sampai saat ini karena dari Beliau lah kita bisa menemukan cahaya Allah yang tersimpan da tersembunyi dalam diri Nabi. Tanpa itu maka ibadah apapun yang kita lakukan tidak ada cahayanya, hanya sekedar memenuhi kewajiban.
Menemukan Pembawa Wasilah terakhir inilah merupakan kewajiban bagi orang-orang beriman dan bertaqwa sebagaimana firman Allah : Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah Swt dan carilah jalan / wasilah yang mendekatkan diri kepada-Nya dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan (sukses). (QS. al Maidah : 35)
Wasilah sebagaimana yang telah banyak kami uraikan di sini bukanlah ibadah, bukan pula manusia, wasilah adalah cahaya Allah yang berasal dari Allah sendiri. Ibarat matahari, Wasilah adalah cahaya sedangkan wadah adalah pembawa wasilah. Anda boleh sepakat bentuk listrik bulat seperti bola lampu karena itu yang terlihat sedangkan bentuk asli listrik kita tidak pernah tahu.
Sangat penting dan wajib bagi sekalian manusia untuk menemukan Sang Pembawa Wasilah, Ulama Pewaris Nabi karena lewat Beliau lah manusia bisa menemukan cahaya-Nya. Sangat tepat ungkapan pujian kepada Nabi dalam syair-syair indah, “Engkau bulan, engkau matahari, Engkau lah cahaya di atas cahaya”, kesemuanya untuk menyadarkan seluruh ummat bahwa Nabi Muhammad SAW bukan sekedar tukang pos yang membawa al-Qur’an sebagaimana orientalis dan sekutunya meyakini, lebih dari itu Beliau adalah cahaya itu sendiri, Beliau adalah Al-Qur’an yang berjalan.
Karena fungsi Nabi sebagaia pembawa wasilah, maka Beliau dengan kerendahan hati berkata, “Barang Siapa yang melihat aku niscaya dia telah melihat al-Haqq (Allah)”, karena seluruh tubuh Beliau telah disinari cahaya Allah SWT. Allahumma Shalli ‘Ala Syaidina Muhammad, Selamat Sejahtera selalu untuk mu ya Muhammad.. Ya Kekasih Allah.
Dalam hadist Qudsi juga Allah telah berfirman apabila seorang hamba mencapai tahap dicintai Allah, “Apabila melihat AKU lah matanya, apabila berjalan AKU lah kakinya”, ini Maqam para kekasih Allah, orang-orang yang telah mendapat karunia dari Allah SWT.
Berhampiran dengan orang-orang yang telah dikasih Allah ini membuat kita juga ikut dekat dengan Allah sebagaimana firman Allah dalam hadist Qudsi, “Jadikanlah dirimu beserta Allah, jika engkau belum beserta Allah maka jadikan lah dirimu beserta dengan orang yang telah beserta Allah niscaya dia lah yang membawamu kehadirat Allah”. Bahasa membawa adalah bahasa awam agar mudah dipahami sedangkan makna sebenarnya siapapun yang berdekatan dengan kekasih Allah secara otomatis akan sampai kepada Allah SWT.
Tulisan ini saya cukupkan dulu sampai disini, insya Allah dilain kesempatan akan saya lanjutkan lagi dengan judul yang sama karena ini adalah hal sangat pokok dalam hidup. “Memandang yang SATU kepada yang Banyak dan memandang Yang Banyak kepada yang SATU”.

Judul ini saya ambil dari ungkapan hakikat dari Maulana Saidi Syekh Muhammad Hasyim al-Khalidi u...


Top